Selasa, 06 Februari 2018

PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21



Abad 21 Dan Pengaruhnya Dalam Pembelajaran
Saat ini kita telah memasuki abad baru yaitu abad 21, diamana rentang waktunya antara tahun 2001-2100. Bahwa abad 21 ini telah banyak berubah akibat adanya pengaruh globalisai yang mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk didalamnya aspek pendidikan.
John Naisbitt seperti dikutip Deliar Noerdan Iskandar Alisyahbana (1988:355), telah terjadi perubahan sepuluh arah dalam menghadapi abad 21 yaitu :
1.      Peralihan dari masyarakat industry kepada masyarakat informasi.
2.      Peralihan darai teknologi yang dipaksakan kepada teknologi tinggi dan sentuhan tinggi.
3.      Peralihan dari ekonomi nasional menuju ekonomi dunia.
4.      Peralihan dari perencanaan jangka pendek menuju perencanaan jangka panjang.
5.      Dari sentralisasi ke desentralisasi.
6.      Dari bantuan institusional menuju bantuan individual.
7.      Dari demokrasi perwakilan menuju ke demokrasi partisipatoris .
8.      Peralihan dari hirarki-hirarki menuju pada penjaringan (network)
9.      Peralihan dari utara menuju selatan.
10.  Peralihan dari satu pilihan kepada pilihan majemuk.
Dalam konteks nasional, antisipasi garapan pendidikan nasional menghadapi kehidupan mendatang khususnya abad 21 , secara yuridis formal telah tersurat pada UU no 2 1989 tentang wajib belajar dasar 9 tahun dan GBHN 1993. Berikut beberapa gagasan yang dapat diterapkan dalam menghadapi abad 21, seperti yang disarankan Deliar Noer dan Iskandar Alisyahbana(1988:376-389):
1.      Pendidikan bukan hanya berurusan dengan transmisi pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga dengan prefensi lain. Itu berarti bahwa pendidikan berhubungan erat dengan nilai-nilai, dan sebagian nilai itu adalah berkenaan dengan nasionalisme.
2.      Negara kita adalah Negara kepulauan. Secara potensial sumber-sumber kita ada di darat dan di perairan. kita bertanggung jawab untuk melindungi sumber alam tersebut serta memanfaatkannya sebaik-baiknya untuk kemaslahatan bangsa.
3.      Dimasa depan mungkin sekali ada perubahan dan fluktuasi yang berarti dalam penyebaran penduduk. Oleh karena itu, perlu dikembangkan sistem pendidikan yang cukup lues yang mampu secara cepat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
4.      Dimasa depan perlu member peranan yang seluas-luasnya kepada kaum wanita untuk mendapatkan kesempatan dalam pendidikan
5.      Tuntutan belajar seumur hidup (life long education) tampaknya harus mendapatkan perhatian yang lebih memadai dimasa akan datang.
6.      Pentingnya media elektronik dalam penyebarluasan pendidikan, termasuk pengembangan sistem belajar jarak jauh dan pemanfaatan computer untuk pendidikan.
7.      Publikasi dan penelitian serta pengembangan pendidikan merupakan hal yang sangat mendasar bagi setiap masyarakat yang ingin maju.
Sistem Pembelajaran Sain Abad 21
Dalam menghadapi globalisasi abad 21 maka salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan Indonesia masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan penting dalam pengembangan IPTEK. IPA (natural sains) adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara mendapatkan pengetahuan mempergunakan pengetahuan.
Pembelajaran IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal ilmu pengetahuan (have a body of knowledge), standar proses akan membentuk siswa yang memiliki keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan berpikir (thinking skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking); standar inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa. Siswa yang berkarakter dapat dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami lingkungan.
Pembelajaran IPA di era abad 21 sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thingking) dan berpikir kritis (critical thingking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi.
Keterampilan berpikir yang dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thingking skill) yang jika dijangkau dengan ranah kognitif pada taksonomi bloom berada pada level analisis, sintesis, evaluasi dan kreasi. Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan karakter dan domain IPA yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap atau tingkah laku dan aplikasi sesuai dengan yang dikemukakan oleh yager (1996:3-4).
Manajemen Sistem Pendidikan Abad 21
Menurut Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan ke dalam 4 prinsip, yaitu:
1.      instruction should be student-centered
2.      education should be collaborative  
3.      learning should have context
4.      schools should be integrated with society .
Keempat prinsip pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
1.      Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal ( prior knowledge ) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.

2.      Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3.      Learning should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata ( real word ). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4.      Schools should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang bertanggung jawab
Bentuk Pembelajaran Digital Abad 21
Dunia pendidikan secara dinamis akan selalu mengalami perubahan yang berimbas pada tuntutan perubahan pada pembelajaran dan sumber daya manusia yang terlibat didalamnya. Pembelajaran abad 21 sendiri identik dengan kemajuan teknologinya, dimana teknologi menjadi bagian yang integral dengan kehidupan pelajar. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi prioritas dalam daftar kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pembelajaran abad 21 (21st Century Literacy Summit,2010).
Meskipun pembelajaran abad 21 membuat pendidikan nampak menuju arah yang sama, namun keahlian abad 21 bersifat kompleks dan bervariasi antar negara ataupun antar daerah, kecuali satu keahlian, literasi teknologi informasi dan komunikasi atau juga disebut literasi dijital. Mendukung literasi tersebut, dikenal pula softskills yang termasuk dalam dua kategori, cara berpikir dan cara bekerja. Cara berpikir meliputi kreativitas, berfikir kritis, dan pemecahan masalah. Cara bekerja meliputi kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Kedua kategori softskills ini amat dipengaruhi oleh budaya lokal sehingga bersifat unik dan ditentukan oleh masyarakat
Tujuan Pendidikan Nasional Abad 21
Cita-cita setiap bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh rakyatnya, dan hidup sejajar dan terhormat di kalangan bangsa-bangsa lain. Demikian pula bangsa Indonesia bercita-cita untuk hidup dalam kesejahteraan dan kebahagiaan, duduk sama rendah dan tegak sama tinggi serta terhormat di kalangan bangsa-bangsa lain di dunia global dalam abad 21 ini. Semua ini dapat dan harus dicapai dengan kemauan dan kemampuan sendiri, yang hanya dapat ditumbuhkembangkan melalui pendidikan yang harus diikuti oleh seluruh anak bangsa. (BNSP, 2010: 30). Dengan demikian, diharapkan dapat mendorong bangsa Indonesia untuk maju dan lebih mandiri. Menurut BNSP, (2010: 30) tujuan pendidikan nasional dapat dirumuskan sebagai berikut ini Pendidikan Nasional abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya” Terwujudnya kesejahteraan spiritual atau kebahagiaan dalam kehidupan suatu masyarakat tercermin dalam bentuk kehidupan bermasyarakat yang nyaman, mulai dari lingkungan rumah tangga sampai ke lingkungan antara bangsa dengan saling dihormati dan menghormati. Ini semua hanya akan tercapai, bila masing-masing anggota masyarakat berpegang pada nilai-nilai luhur yang tercermin dalam sikap dan perbuatan, yang antara lain saling menghormati dan saling menghargai, memiliki rasa kebersamaan, empati, dan sebagainya (BNSP, 2010: 30). Dalam abad ini masing-masing ilmu tidak lagi harus bekerja sendiri, melainkan berbagai cabang ilmu dapat bekerja sama, bukan hanya dalam sesama kelompok sains, teknologi, atau sains sosial dan humaniora saja, melainkan dalam banyak hal antara beberapa kelompok.
Karakteristik Pembelajaran Abad 21
Pergeseran paradigma pembelajaran kontemporer telah berganti pada student centered (pembajaran berpusat pada siswa), yaitu siswa yang berperan secara aktif dalam proses pembelajaran. di mana guru tidak lagi sebagai satu-satunya pusat informasi, melainkan sebagai manajer dan fasilitator, yaitu sebagai pengelola pembelajaran yang memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, siswa diberikan kebebasan dan keleluasan belajar yang sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan mereka serta siswa tersebut dapat mengukur sendiri sejauh mana pemahaman dan penguasaan mereka terhadap suatu materi. Keterampilan yang dibutuhkan siswa, di antaranya sebagai berikut (Hosnan, 2014: 85-86):
1.      Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kecakapan intelektual, digital sosial, dan akademik belum cukup. Siswa di sekolah wajib memiliki kecakapan hidup yang lebih bernilai yang ditandai dengan keterampilan beriman dan bertakwa, tcrampil hidup jujur, terampil menjalankan amanah, terampil berbuat adil, terampil menjalankan tanggung jawab, terampil berempati, dan menjalankan hidup beragama sebagai rcfleksi menjalankan perintah Tuhan
2.      Memiliki karakter sebagai pemikir. Karakter sebagai pemikir ini ditandai dengan terampil berpikir inovatif lewat kecepatan beradaptasi dengan lingkungan, mampu memecahkan masalah yang kompleks, dan dapat mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi tantangan yang ada, cerdas, kreatif, dan berani mengambil risiko. Selain itu, karakter yang relevan dengan kerja otak ini meliputi perilaku berpikir yang selalu ingin tahu, berpikir terbuka, dan bersikap reflektif
3.      Cakap dalam menggunakan teknologi dan informasi. Siswa diharapkan memiliki kemampuan dan kecakapan untuk memvisualisasi informasi dalam mengembangkan keterampilan multikultural, bekerja sama dan berkomunikasi dalam ruang lintas bangsa, serta terampil mengembangkan kesadaran global
4.      Memiliki keterampilan berkomunikasi. Siswa diharapkan memiliki kemampuan bekerja dalam tim yang bervariasi, bcrkolaborasi, dan cakap mengembangkan hubungan interpersonal sehingga selalu dapat menempatkan diri dalam interaksi yang harmonis. Memiliki kecakapan komunikatif, personal, sosial, dan terampil. Yang tidak kalah pentingnya adalah terampil dalam komunikasi interaktif dengan cerdas dan rendah hati. Karakter yang relevan dengan keterampilan ini adalah menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, dan bangga terhadap produk bangsa sendiri.
5.      Memiliki etos kerja yang tinggi dan produktif. Siswa diharapkan dapat memiliki kemampuan untuk menentukan prioritas mengembangkan perencanaan, memetakan hasil pencapaian, terampil menggunakan perangkat kerja, dan meningkatkan keterampilan yang sejalan dengan perkembangan teknologi. Di samping itu, terampil mengembangkan kecakapan yang relevan denga kebutuhan hidup dan selalu menghasilkan mutu produk yang tinggi. Karakter yang relevan dengan hal ini adalah perilaku yang bersih dan sehat, disiplin, suportif, tidak kenal menyerah, tangguh, handal, berketetapan hati, kerja keras, dan kompetitif.
Dari uraian diatas, maka penulis mencoba mengajukan 3 pertanyaan, yang bisa ditanggapi oleh para pembaca. Pertanyaannya :
1.      Bagaimana karakteristik yang harus di miliki seorang guru professional untuk siap menghadapi perubahan abad 21 ?
2.       Kita ketahui bahwa pembelajaran di abad 21 ini sangat dibutuhkan sekali teknologi dalam proses pembelajaran. Lalu bagaimanakah jika pada suatu sekolah, tidak memiliki atau tertinggal dari hal itu. Apa yang harus di lakukan seorang guru, untuk bisa mengatasi hal tersebut ?
3.      Upaya apakah yang harus dilakukan seorang guru untuk mengatasi dampak negatif dari penggunaan teknologi oleh para siswa ?

11 komentar:

  1. Tidak tersedianya alat pembelajaran tidaklah menjadi alasan guru dalam mengajar. Guru dituntut kreatif dan inovatif untuk mengatasi hal tersebut. Salah satu hal yang dapat di lakukan salah satu diantaranya adalah melakukan alam sekitar, dan memberlakukan tutor sebaya untuk saling memberikan informasi.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  2. Sedikit sharing untuk pertanyaan nomor 1 dimana Guru abad ke-21 harus menjadi pembelajar seumur hidup dan harus bersedia untuk belajar tidak hanya dari rekan-rekan mereka tetapi dari siswa mereka juga.yg mana pada kurikulum k13 sudah dicanangkan bahwa guru juga terus mengevaluasi diri bersama2 siswa selama proses pembelajaran, dan terus mengikuti perkembangan yg ada didunia pendidikan guna mengembangkan diri dan menjadi modal guru dalam proses pembelajaran

    BalasHapus
  3. ulasan yang sangat menarik..
    sedikit berbagi tentang pertanyaan terakhir, saya pernah berdiskusi mengenai hal ini, dimana pembelajaran pada era ini sebagian besar menggunakan teknologi terutama penggunaan internet di smartphone dan komputer. tidak kita pungkiri selain ada dampak positif maka akan ada pula dampak negatifnya. lalu bagaimana guru mengatasi hal ini? menurut saya untuk mengatasi dampak negatif dalam pemanfaatan teknologi ini, guru sebagai pembimbing, pengarah dan pengawas harus bisa tegas kepada siswa. selain mengingatkan, guru juga harus tegas memberikan sanksi sebagai efek jera jika siswa kedapatan menggunakan kemajuan teknologi untuk hal negatif diluar jalur pembelajaran. diluar jam sekolah,guru juga harus mengarahkan orang tua untuk mengawasi penggunaan gadget pada anak mereka.. terimakasih..

    BalasHapus
  4. Saya akan menyingkapin pertanyaan no 2.?1.Guru memiliki antusiasme, rasa kasih sayang dan kemampuan berpikir merdeka dan mandiri.2.Menguasai teknologi, bukan untuk menjadi guru yang ahli komputer, tetapi guru perlu mengetahui dan mempelajari teknologi agar bisa maksimal dalam membantu siswa belajar melalui modalitas belajar yang siswa punyai.3Kesediaan dan kemauan untuk berkolaborasi dan mengatakan dirinya orang yang tidak tahu segala.4.Bersedia menjadi contoh pembelajar seumur hidup dengan bersedia untuk mengakui bahwa dirinya ‘tidak tahu segalanya 5.

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum wr.wb
    Ulasan nya sangat menarik.
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 1..
    Guru di abad 21 memiliki karakteristik yang spesifik dibanding dengan guru pada abad-abad sebelumnya. Adapun karakteristik yang dimaksud adalah sebagai berikut :

    1. Memiliki semangat juang dan etos kerja yang tinggi disertai kualitas keimanan dan ketakwaan yang mantap.
    2. Mampu memanfaatkan iptek sesuai tuntutan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya.
    3. Berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi.
    4. Memiliki wawasan ke depan yang luas dan tidak picik dalam memandang berbagai permasalahan.
    5. Memiliki keteladanan moral serta rasa estetika yang tinggi.
    6. Mengembangkan prinsip kerja bersaing dan bersanding.
    Terima kasih

    BalasHapus
  6. saya akan menanggapi pertanyaan sdri. Yeni yang no.1 yaitu:
    Bagaimana karakteristik yang harus di miliki seorang guru professional untuk siap menghadapi perubahan abad 21 ?

    -guru harus mengupgrade terus pengetahuannya karena zaman terus berubah dan guru wajib up to date agar dapat mendampingi siswa berdasarkan kebutuhan siswa.
    -guru harus kreatif dan inovatif selama pembelajaran.
    -guru harus mengoptimalkan teknologi dalam pembelajarannya.
    -guru dapat berkolaborasi dengan siswa selama pembelajaran. inilah salah satu ciri dari pembelajaran di abad 21.
    -guru hanya bertindak fasilitator, pembelajaran lebih berpusat pada siswa.

    terima kasih.

    BalasHapus
  7. saya mencoba menanggapi pertanyaan no 3
    upaya seorang guru dalam meminimalisir dampak negatif dari penggunaan teknologi kita ambil contoh pada teknologi internet. yaitu salah satunya dengan cara
    siswa harus diberikan pemahaman tentang cara menggunakan teknologi informasi dengan baik dan tidak melanggar etika. Sehingga teknologi informasi dapat dimanfaatkan dengan semestinya, kemudian Pemerintah harus membuat suatu peraturan yang tegas terhadap setiap pelanggaran penggunaa teknologi informasi yang merugikan orang lain dan negara.dan banyak lagi cara-cara lainnya yang bisa di terapkan kepada siswa agar tidak disalah gunakan.

    BalasHapus
  8. Assalamualaikum wr wb
    Menanggapi pertanyaan no 1. Karakteristik guru abad ke-21, efektif memiliki kemahiran dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikas, menguasai banyak pengetahuan (akademik, pedagogik, sosial dan budaya), mampu berpikir kritis, tanggap terhadap setiap perubahan, dan mampu menyelesaikan masalah. Guru hendaknya terus-menerus mengevaluasi kemampuan siswa yang dibutuhkan untuk bersaing secara global. Guru berperan sebagai fasilitator dalam suatu pembelajaran harus mengasah kemampuan dan keterampilannya menjadi lebih baik , kreatif dan inovatif serta guru harus memiliki karakteristik yang mengayomi siswa bukan saja pada pengetahuanya saja tetapi juga menanamkan budi pekerti yang baik pada siswa.

    BalasHapus
  9. Assalamualaikum, terimakasih saudari yeni atas ulasannya. Saya akan menanggapi pertaanyaan terakhir. Menurutsaya upaya yang harus dilakukan guru agar anak-anak dapat terhindar dari dampak negatif teknologi adalah Ajak anak bersosialisasi karena Perkembangan teknologi membawa dampak negatif dalam hal kehidupan sosial anak. Banyak anak-anak menjadi pribadi yang “anti sosial”. Mereka terlalu cuek dengan lingkungan sekitar.
    Mengajarkan empati, Dampak lain dari perkembangan teknologi adalah membuat anak memiliki pribadi yang egois dan sombong.selanjutnya Mengajarkan kecintaan pada alam ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan alam yang indah ini untuk dijaga dan dilestarikan. Bila manusia bisa merawatnya dengan baik, maka alam tidak akan rusak. Tidak akan ada makhluk hidup yang akan mengalami kepunahan. Karena di era teknologi yang kian modern ini banyak perusakan-perusakan terjadi, misalnya penebangan hutan secara liar, pembakaran hutan, penambangan pasir secara liar, dan lainnya. Anak-anak perlu diajarkan tentang kecintaan pada alam sejak dini. Misalnya dengan cara mengajak mereka melakukan aktivitas berkebun, berlibur mengunjungi desa wisata atau wisata alam, merawat hewan peliharaan dengan baik, dan lainnya dan yang terakhir adalah Mengajarkan pendidikan karakter Perkembangan teknologi tidak hanya mempengaruhi pola pikir anak, namun juga orang tua. Banyak orang tua yang menganggap bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang penting. Sehingga banyak orang tua terlihat cuek pada anaknya dan enggan mengajarkan pendidikan karakter atau moral kepada anak. Anak-anak terlalu dibiarkan bertumbuh sendiri, dengan alasan anak-anak perlu belajar tentang kemandirian atau karena terlalu mempercayakan urusan pendidikan kepada pihak sekolah. Kerja sama orang tua dan guru sangat besar manfaatnya untuk mengatasi dampak negatif dari teknologi

    BalasHapus
  10. sharing untuk pertanyaan nomor 1 buk yeni, menurut saya karakter pertama yang harus dimiliki guru pada abad 21 adalah Pembelajar seumur hidup. Guru perlu meng-upgrade terus pengetahuannya dengan banyak membaca serta berdiskusi dengan pengajar lain atau bertanya pada para ahli. Tak pernah ada kata puas dengan pengetahuan yang ada, karena zaman terus berubah dan guru wajib up to date agar dapat mendampingi siswa berdasarkan kebutuhan mereka. lalu selanjutnya adalah Kreatif dan inovatif,dan mampu Mengoptimalkan teknologi

    BalasHapus
  11. terkadang aku butuh sanitasi nya :(

    BalasHapus