Abad 21 Dan Pengaruhnya Dalam
Pembelajaran
Saat
ini kita telah memasuki abad baru yaitu abad 21, diamana rentang waktunya
antara tahun 2001-2100. Bahwa abad 21 ini telah banyak berubah akibat adanya
pengaruh globalisai yang mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk didalamnya
aspek pendidikan.
John
Naisbitt seperti dikutip Deliar Noerdan Iskandar Alisyahbana (1988:355), telah
terjadi perubahan sepuluh arah dalam menghadapi abad 21 yaitu :
1. Peralihan
dari masyarakat industry kepada masyarakat informasi.
2. Peralihan
darai teknologi yang dipaksakan kepada teknologi tinggi dan sentuhan tinggi.
3. Peralihan
dari ekonomi nasional menuju ekonomi dunia.
4. Peralihan
dari perencanaan jangka pendek menuju perencanaan jangka panjang.
5. Dari
sentralisasi ke desentralisasi.
6. Dari
bantuan institusional menuju bantuan individual.
7. Dari
demokrasi perwakilan menuju ke demokrasi partisipatoris .
8. Peralihan
dari hirarki-hirarki menuju pada penjaringan (network)
9. Peralihan
dari utara menuju selatan.
10. Peralihan
dari satu pilihan kepada pilihan majemuk.
Dalam
konteks nasional, antisipasi garapan pendidikan nasional menghadapi kehidupan
mendatang khususnya abad 21 , secara yuridis formal telah tersurat pada UU no 2
1989 tentang wajib belajar dasar 9 tahun dan GBHN 1993. Berikut beberapa gagasan
yang dapat diterapkan dalam menghadapi abad 21, seperti yang disarankan Deliar
Noer dan Iskandar Alisyahbana(1988:376-389):
1. Pendidikan
bukan hanya berurusan dengan transmisi pengetahuan dan keterampilan, tetapi
juga dengan prefensi lain. Itu berarti bahwa pendidikan berhubungan erat dengan
nilai-nilai, dan sebagian nilai itu adalah berkenaan dengan nasionalisme.
2. Negara
kita adalah Negara kepulauan. Secara potensial sumber-sumber kita ada di darat
dan di perairan. kita bertanggung jawab untuk melindungi sumber alam tersebut
serta memanfaatkannya sebaik-baiknya untuk kemaslahatan bangsa.
3. Dimasa
depan mungkin sekali ada perubahan dan fluktuasi yang berarti dalam penyebaran
penduduk. Oleh karena itu, perlu dikembangkan sistem pendidikan yang cukup lues
yang mampu secara cepat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
4. Dimasa
depan perlu member peranan yang seluas-luasnya kepada kaum wanita untuk
mendapatkan kesempatan dalam pendidikan
5. Tuntutan
belajar seumur hidup (life long education) tampaknya harus mendapatkan
perhatian yang lebih memadai dimasa akan datang.
6. Pentingnya
media elektronik dalam penyebarluasan pendidikan, termasuk pengembangan sistem
belajar jarak jauh dan pemanfaatan computer untuk pendidikan.
7. Publikasi
dan penelitian serta pengembangan pendidikan merupakan hal yang sangat mendasar
bagi setiap masyarakat yang ingin maju.
Sistem Pembelajaran Sain Abad 21
Dalam
menghadapi globalisasi abad 21 maka salah satu cara yang harus dilakukan adalah
dengan meningkatkan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan
Indonesia masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu
dasar memegang peranan penting dalam pengembangan IPTEK. IPA (natural sains)
adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara mendapatkan pengetahuan mempergunakan
pengetahuan.
Pembelajaran
IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal
ilmu pengetahuan (have a body of knowledge), standar proses akan membentuk
siswa yang memiliki keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan
berpikir (thinking skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking);
standar inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan
kreatif (critical and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa
secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran
(authentic assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA
khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter
siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan
standar-standar guna membangun karakter siswa. Siswa yang berkarakter dapat
dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan pengetahuan,
keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami lingkungan.
Pembelajaran
IPA di era abad 21 sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific
inquiri) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning)
untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thingking) dan berpikir
kritis (critical thingking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan
inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi.
Keterampilan
berpikir yang dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir
tingkat tinggi (high order thingking skill) yang jika dijangkau dengan ranah
kognitif pada taksonomi bloom berada pada level analisis, sintesis, evaluasi
dan kreasi. Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan karakter dan domain IPA
yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap atau tingkah laku dan
aplikasi sesuai dengan yang dikemukakan oleh yager (1996:3-4).
Manajemen Sistem Pendidikan Abad 21
Menurut
Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan ke dalam 4
prinsip, yaitu:
1. instruction
should be student-centered
2. education
should be collaborative
3. learning
should have context
4. schools
should be integrated with society .
Keempat
prinsip pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut
dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
1.
Instruction
should be student-centered
Pengembangan
pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif
mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut
untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi
berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan
kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi
untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran
berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa
sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal ( prior
knowledge ) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan
dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan
gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas
proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai
pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam
proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
2.
Education
should be collaborative
Siswa
harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi
dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang
dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong
untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan
suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan
talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri
secara tepat dengan mereka.
Begitu
juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan
lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling
berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang
telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode
pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3.
Learning
should have context
Pembelajaran
tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di
luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata ( real word ). Guru membantu
siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang
dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru
melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4.
Schools
should be integrated with society
Dalam
upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah
seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya.
Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar
mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa
dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat,
seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya.
Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk
melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan
kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi.
Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat
tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai
belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang
bertanggung jawab
Bentuk Pembelajaran Digital Abad 21
Dunia
pendidikan secara dinamis akan selalu mengalami perubahan yang berimbas pada
tuntutan perubahan pada pembelajaran dan sumber daya manusia yang terlibat
didalamnya. Pembelajaran abad 21 sendiri identik dengan kemajuan teknologinya,
dimana teknologi menjadi bagian yang integral dengan kehidupan pelajar.
Teknologi informasi dan komunikasi menjadi prioritas dalam daftar
kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pembelajaran abad 21
(21st Century Literacy Summit,2010).
Meskipun
pembelajaran abad 21 membuat pendidikan nampak menuju arah yang sama, namun
keahlian abad 21 bersifat kompleks dan bervariasi antar negara ataupun antar
daerah, kecuali satu keahlian, literasi teknologi informasi dan komunikasi atau
juga disebut literasi dijital. Mendukung literasi tersebut, dikenal pula
softskills yang termasuk dalam dua kategori, cara berpikir dan cara bekerja.
Cara berpikir meliputi kreativitas, berfikir kritis, dan pemecahan masalah.
Cara bekerja meliputi kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Kedua kategori
softskills ini amat dipengaruhi oleh budaya lokal sehingga bersifat unik dan
ditentukan oleh masyarakat
Tujuan Pendidikan Nasional Abad 21
Cita-cita
setiap bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh
rakyatnya, dan hidup sejajar dan terhormat di kalangan bangsa-bangsa lain.
Demikian pula bangsa Indonesia bercita-cita untuk hidup dalam kesejahteraan dan
kebahagiaan, duduk sama rendah dan tegak sama tinggi serta terhormat di
kalangan bangsa-bangsa lain di dunia global dalam abad 21 ini. Semua ini dapat
dan harus dicapai dengan kemauan dan kemampuan sendiri, yang hanya dapat
ditumbuhkembangkan melalui pendidikan yang harus diikuti oleh seluruh anak
bangsa. (BNSP, 2010: 30). Dengan demikian, diharapkan dapat mendorong bangsa
Indonesia untuk maju dan lebih mandiri. Menurut BNSP, (2010: 30) tujuan
pendidikan nasional dapat dirumuskan sebagai berikut ini “Pendidikan
Nasional abad 21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat
bangsa Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat
dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan
masyarakat yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu
pribadi yang mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita
bangsanya” Terwujudnya kesejahteraan spiritual atau kebahagiaan
dalam kehidupan suatu masyarakat tercermin dalam bentuk kehidupan bermasyarakat
yang nyaman, mulai dari lingkungan rumah tangga sampai ke lingkungan antara
bangsa dengan saling dihormati dan menghormati. Ini semua hanya akan tercapai,
bila masing-masing anggota masyarakat berpegang pada nilai-nilai luhur yang
tercermin dalam sikap dan perbuatan, yang antara lain saling menghormati dan
saling menghargai, memiliki rasa kebersamaan, empati, dan sebagainya (BNSP,
2010: 30). Dalam abad ini masing-masing ilmu tidak lagi harus bekerja sendiri,
melainkan berbagai cabang ilmu dapat bekerja sama, bukan hanya dalam sesama
kelompok sains, teknologi, atau sains sosial dan humaniora saja, melainkan
dalam banyak hal antara beberapa kelompok.
Karakteristik
Pembelajaran Abad 21
Pergeseran
paradigma pembelajaran kontemporer telah berganti pada student centered
(pembajaran berpusat pada siswa), yaitu siswa yang berperan secara aktif dalam
proses pembelajaran. di mana guru tidak lagi sebagai satu-satunya pusat
informasi, melainkan sebagai manajer dan fasilitator, yaitu sebagai pengelola
pembelajaran yang memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, siswa
diberikan kebebasan dan keleluasan belajar yang sesuai dengan minat, bakat, dan
kebutuhan mereka serta siswa tersebut dapat mengukur sendiri sejauh mana
pemahaman dan penguasaan mereka terhadap suatu materi. Keterampilan yang
dibutuhkan siswa, di antaranya sebagai berikut (Hosnan, 2014: 85-86):
1.
Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kecakapan intelektual, digital sosial, dan akademik belum cukup. Siswa di
sekolah wajib memiliki kecakapan hidup yang lebih bernilai yang ditandai dengan
keterampilan beriman dan bertakwa, tcrampil hidup jujur, terampil menjalankan
amanah, terampil berbuat adil, terampil menjalankan tanggung jawab, terampil
berempati, dan menjalankan hidup beragama sebagai rcfleksi menjalankan perintah
Tuhan
2.
Memiliki karakter sebagai pemikir.
Karakter sebagai pemikir ini ditandai dengan terampil berpikir inovatif lewat
kecepatan beradaptasi dengan lingkungan, mampu memecahkan masalah yang
kompleks, dan dapat mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi tantangan yang
ada, cerdas, kreatif, dan berani mengambil risiko. Selain itu, karakter yang
relevan dengan kerja otak ini meliputi perilaku berpikir yang selalu ingin
tahu, berpikir terbuka, dan bersikap reflektif
3.
Cakap dalam menggunakan teknologi dan
informasi. Siswa diharapkan memiliki kemampuan dan kecakapan untuk
memvisualisasi informasi dalam mengembangkan keterampilan multikultural,
bekerja sama dan berkomunikasi dalam ruang lintas bangsa, serta terampil mengembangkan
kesadaran global
4.
Memiliki keterampilan berkomunikasi.
Siswa diharapkan memiliki kemampuan bekerja dalam tim yang bervariasi, bcrkolaborasi,
dan cakap mengembangkan hubungan interpersonal sehingga selalu dapat
menempatkan diri dalam interaksi yang harmonis. Memiliki kecakapan komunikatif,
personal, sosial, dan terampil. Yang tidak kalah pentingnya adalah terampil
dalam komunikasi interaktif dengan cerdas dan rendah hati. Karakter yang
relevan dengan keterampilan ini adalah menghargai, toleran, peduli, suka
menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, dan bangga terhadap produk
bangsa sendiri.
5.
Memiliki etos kerja yang tinggi dan produktif.
Siswa diharapkan dapat memiliki kemampuan untuk menentukan prioritas
mengembangkan perencanaan, memetakan hasil pencapaian, terampil menggunakan
perangkat kerja, dan meningkatkan keterampilan yang sejalan dengan perkembangan
teknologi. Di samping itu, terampil mengembangkan kecakapan yang relevan denga
kebutuhan hidup dan selalu menghasilkan mutu produk yang tinggi. Karakter yang
relevan dengan hal ini adalah perilaku yang bersih dan sehat, disiplin,
suportif, tidak kenal menyerah, tangguh, handal, berketetapan hati, kerja keras,
dan kompetitif.
Dari
uraian diatas, maka penulis mencoba mengajukan 3 pertanyaan, yang bisa
ditanggapi oleh para pembaca. Pertanyaannya :
1. Bagaimana
karakteristik yang harus di miliki seorang guru professional untuk siap
menghadapi perubahan abad 21 ?
2. Kita ketahui bahwa pembelajaran di abad 21 ini
sangat dibutuhkan sekali teknologi dalam proses pembelajaran. Lalu bagaimanakah
jika pada suatu sekolah, tidak memiliki atau tertinggal dari hal itu. Apa yang
harus di lakukan seorang guru, untuk bisa mengatasi hal tersebut ?
3. Upaya
apakah yang harus dilakukan seorang guru untuk mengatasi dampak negatif dari
penggunaan teknologi oleh para siswa ?
Tidak tersedianya alat pembelajaran tidaklah menjadi alasan guru dalam mengajar. Guru dituntut kreatif dan inovatif untuk mengatasi hal tersebut. Salah satu hal yang dapat di lakukan salah satu diantaranya adalah melakukan alam sekitar, dan memberlakukan tutor sebaya untuk saling memberikan informasi.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Sedikit sharing untuk pertanyaan nomor 1 dimana Guru abad ke-21 harus menjadi pembelajar seumur hidup dan harus bersedia untuk belajar tidak hanya dari rekan-rekan mereka tetapi dari siswa mereka juga.yg mana pada kurikulum k13 sudah dicanangkan bahwa guru juga terus mengevaluasi diri bersama2 siswa selama proses pembelajaran, dan terus mengikuti perkembangan yg ada didunia pendidikan guna mengembangkan diri dan menjadi modal guru dalam proses pembelajaran
BalasHapusulasan yang sangat menarik..
BalasHapussedikit berbagi tentang pertanyaan terakhir, saya pernah berdiskusi mengenai hal ini, dimana pembelajaran pada era ini sebagian besar menggunakan teknologi terutama penggunaan internet di smartphone dan komputer. tidak kita pungkiri selain ada dampak positif maka akan ada pula dampak negatifnya. lalu bagaimana guru mengatasi hal ini? menurut saya untuk mengatasi dampak negatif dalam pemanfaatan teknologi ini, guru sebagai pembimbing, pengarah dan pengawas harus bisa tegas kepada siswa. selain mengingatkan, guru juga harus tegas memberikan sanksi sebagai efek jera jika siswa kedapatan menggunakan kemajuan teknologi untuk hal negatif diluar jalur pembelajaran. diluar jam sekolah,guru juga harus mengarahkan orang tua untuk mengawasi penggunaan gadget pada anak mereka.. terimakasih..
Saya akan menyingkapin pertanyaan no 2.?1.Guru memiliki antusiasme, rasa kasih sayang dan kemampuan berpikir merdeka dan mandiri.2.Menguasai teknologi, bukan untuk menjadi guru yang ahli komputer, tetapi guru perlu mengetahui dan mempelajari teknologi agar bisa maksimal dalam membantu siswa belajar melalui modalitas belajar yang siswa punyai.3Kesediaan dan kemauan untuk berkolaborasi dan mengatakan dirinya orang yang tidak tahu segala.4.Bersedia menjadi contoh pembelajar seumur hidup dengan bersedia untuk mengakui bahwa dirinya ‘tidak tahu segalanya 5.
BalasHapusAssalamualaikum wr.wb
BalasHapusUlasan nya sangat menarik.
Saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 1..
Guru di abad 21 memiliki karakteristik yang spesifik dibanding dengan guru pada abad-abad sebelumnya. Adapun karakteristik yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Memiliki semangat juang dan etos kerja yang tinggi disertai kualitas keimanan dan ketakwaan yang mantap.
2. Mampu memanfaatkan iptek sesuai tuntutan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya.
3. Berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi.
4. Memiliki wawasan ke depan yang luas dan tidak picik dalam memandang berbagai permasalahan.
5. Memiliki keteladanan moral serta rasa estetika yang tinggi.
6. Mengembangkan prinsip kerja bersaing dan bersanding.
Terima kasih
saya akan menanggapi pertanyaan sdri. Yeni yang no.1 yaitu:
BalasHapusBagaimana karakteristik yang harus di miliki seorang guru professional untuk siap menghadapi perubahan abad 21 ?
-guru harus mengupgrade terus pengetahuannya karena zaman terus berubah dan guru wajib up to date agar dapat mendampingi siswa berdasarkan kebutuhan siswa.
-guru harus kreatif dan inovatif selama pembelajaran.
-guru harus mengoptimalkan teknologi dalam pembelajarannya.
-guru dapat berkolaborasi dengan siswa selama pembelajaran. inilah salah satu ciri dari pembelajaran di abad 21.
-guru hanya bertindak fasilitator, pembelajaran lebih berpusat pada siswa.
terima kasih.
saya mencoba menanggapi pertanyaan no 3
BalasHapusupaya seorang guru dalam meminimalisir dampak negatif dari penggunaan teknologi kita ambil contoh pada teknologi internet. yaitu salah satunya dengan cara
siswa harus diberikan pemahaman tentang cara menggunakan teknologi informasi dengan baik dan tidak melanggar etika. Sehingga teknologi informasi dapat dimanfaatkan dengan semestinya, kemudian Pemerintah harus membuat suatu peraturan yang tegas terhadap setiap pelanggaran penggunaa teknologi informasi yang merugikan orang lain dan negara.dan banyak lagi cara-cara lainnya yang bisa di terapkan kepada siswa agar tidak disalah gunakan.
Assalamualaikum wr wb
BalasHapusMenanggapi pertanyaan no 1. Karakteristik guru abad ke-21, efektif memiliki kemahiran dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikas, menguasai banyak pengetahuan (akademik, pedagogik, sosial dan budaya), mampu berpikir kritis, tanggap terhadap setiap perubahan, dan mampu menyelesaikan masalah. Guru hendaknya terus-menerus mengevaluasi kemampuan siswa yang dibutuhkan untuk bersaing secara global. Guru berperan sebagai fasilitator dalam suatu pembelajaran harus mengasah kemampuan dan keterampilannya menjadi lebih baik , kreatif dan inovatif serta guru harus memiliki karakteristik yang mengayomi siswa bukan saja pada pengetahuanya saja tetapi juga menanamkan budi pekerti yang baik pada siswa.
Assalamualaikum, terimakasih saudari yeni atas ulasannya. Saya akan menanggapi pertaanyaan terakhir. Menurutsaya upaya yang harus dilakukan guru agar anak-anak dapat terhindar dari dampak negatif teknologi adalah Ajak anak bersosialisasi karena Perkembangan teknologi membawa dampak negatif dalam hal kehidupan sosial anak. Banyak anak-anak menjadi pribadi yang “anti sosial”. Mereka terlalu cuek dengan lingkungan sekitar.
BalasHapusMengajarkan empati, Dampak lain dari perkembangan teknologi adalah membuat anak memiliki pribadi yang egois dan sombong.selanjutnya Mengajarkan kecintaan pada alam ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan alam yang indah ini untuk dijaga dan dilestarikan. Bila manusia bisa merawatnya dengan baik, maka alam tidak akan rusak. Tidak akan ada makhluk hidup yang akan mengalami kepunahan. Karena di era teknologi yang kian modern ini banyak perusakan-perusakan terjadi, misalnya penebangan hutan secara liar, pembakaran hutan, penambangan pasir secara liar, dan lainnya. Anak-anak perlu diajarkan tentang kecintaan pada alam sejak dini. Misalnya dengan cara mengajak mereka melakukan aktivitas berkebun, berlibur mengunjungi desa wisata atau wisata alam, merawat hewan peliharaan dengan baik, dan lainnya dan yang terakhir adalah Mengajarkan pendidikan karakter Perkembangan teknologi tidak hanya mempengaruhi pola pikir anak, namun juga orang tua. Banyak orang tua yang menganggap bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang penting. Sehingga banyak orang tua terlihat cuek pada anaknya dan enggan mengajarkan pendidikan karakter atau moral kepada anak. Anak-anak terlalu dibiarkan bertumbuh sendiri, dengan alasan anak-anak perlu belajar tentang kemandirian atau karena terlalu mempercayakan urusan pendidikan kepada pihak sekolah. Kerja sama orang tua dan guru sangat besar manfaatnya untuk mengatasi dampak negatif dari teknologi
sharing untuk pertanyaan nomor 1 buk yeni, menurut saya karakter pertama yang harus dimiliki guru pada abad 21 adalah Pembelajar seumur hidup. Guru perlu meng-upgrade terus pengetahuannya dengan banyak membaca serta berdiskusi dengan pengajar lain atau bertanya pada para ahli. Tak pernah ada kata puas dengan pengetahuan yang ada, karena zaman terus berubah dan guru wajib up to date agar dapat mendampingi siswa berdasarkan kebutuhan mereka. lalu selanjutnya adalah Kreatif dan inovatif,dan mampu Mengoptimalkan teknologi
BalasHapusterkadang aku butuh sanitasi nya :(
BalasHapus