Senin, 12 Februari 2018

MODEL MODEL PEMBELAJARAN KHAS SAINS



Model-Model Pembelajaran Khas Sains
Penerapan pembelajaran IPA yang dilakukan oleh setiap pendidik memilki karakter yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh isi materi dan kemampuan pendidik itu sendiri. Kreatifitas seorang guru akan sangat diperlukan khususnya pembelajaran IPA, karena dalam pembelajaran IPA tidaklah cukup dengan menggunakan model dan metode yang biasa diterapkan dalam pembelajaran yang lainnya. Hal ini harus diakui secara seksama karena materi IPA memerlukan suatu aktifitas yang langsung dan benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
IPA dalam pembelajarannya memilki ciri yang berbeda dengan membelajarkan materi yang lain kepada siswa, salah satu ciri yang menonjol adalah adanya proses pembelajaran yang berproses dengan menggunakan observasi, percobaan, dan pemecahan masalah. Memang ciri ini dimiliki oleh materi pelajaran yang lain, akan tetapi prosedur dalam pengalikasiaanya memliki persamaan dengan metode yang dilakukan oleh para ahli, dan para penemu-penemu sebelumnya.
Adapun ciri-ciri pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL adalah sebagai berikut :
1.      Kerja sama
2.      Saling menunjang
3.      Menyenangkan
4.      Belajar dengan bergairah
5.      Pembelajaran terintegrasi
6.      Menggunakan berbagai sumber belajar
7.      Siswa aktif Shering dengan teman
8.      Siswa kritis guru kreatif
9.      Dinding kelas penuh dengan karya siswa
Adapun model-model pembelajaran IPA adalah salah satunya terdapat pada pendekatan CTL (contextual teaching and learning).
Adapun penerapan pendekatan CTL di dalam kelas secara umum adalah sebagai berikut :
1.      Konstruktivisme (constructivism)
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya.
Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis, `strategi memperoleh' lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan:
1)      Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
2)      Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
3)      Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar

2.      Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion).
Siklus inkuiri
Ø  Observasi (Observation)
Ø  Bertanya (Questioning)
Ø  Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
Ø  Pengumpulan data (Data gathering)
Ø  Penyimpulan (Conclussion)
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri)
1)      Merumuskah masalah (dalam matapelajaran apapun)
Ø  Bagaimanakah silsilah raja-raja Majapahit? (sejarah)
Ø  Bagaimanakah cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar di tepi pantai Kendari? (bahasa Indonesia)?
Ø  Ada berapa jenis tumbuhan menurut bentuk bijinya? (biologi)
Ø  Kota mana saja yang termasuk kota besar di Indonesia? (geografi)
2)      Mengamati atau melakukan observasi
Ø  Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung.
Ø  Mengamati clan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati
3)      Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, clan karya lainnya
Ø  Siswa membuat peta kota-kota besar sendiri
Ø  Siswa membuat paragraf deskripsi sendiri.
Ø  Siswa membuat bagan silsilah raja-raja Majapahit sendiri
Ø  Siswa membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri.
Ø  Siswa membuat essai atau usulan kepada Pemerintah tentang berbagai masalah di daerahnya sendiri. Dst.
4)      Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain
Ø  Karya siswa disampaikan teman sekelas atau kepada orang banyak untuk mendapatkan masukan
Ø  Bertanya jawab dengan teman
Ø  Memunculkan ide-ide baru
Ø  Melakukan refleksi
Ø  Menempelkan gambar, karya tulis, peta, dan sejenisnya di dinding kelas, dinding sekolah, majalah dinding, majalah sekolah, dsb.

3.      Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk :
1)      Menggali informasi
2)      Menggali pemahaman siswa
3)      Membangkitkan respon kepada siswa
4)      Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa
5)      Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
6)      Memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru
7)      Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa

4.      Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.
Metode pembelajaran dengan teknik "learning community" ini sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam :
Ø  Pembentukan kelompok kecil
Ø  Pembentukan kelompok besar
Ø  Mendatangkan `ahli' ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dsb)
Ø  Bekerja dengan kelas sederajat
Ø  Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
Ø  Bekerja dengan masyarakat

5.      Pemodelan (Modeling)
Pemodelan pada dasarnya membahas apa akan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.
6.      Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
Realisasinya berupa :
Ø  Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu
Ø  Catatan atau jurnal di buku siswa
Ø  Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
Ø  Diskusi
Ø  Hasil karya.
Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya salah satunya. Itulah hakekat penilaian yang sebenarnya.
7.      Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil
Karakteristik authentic assessment:
Ø  Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
Ø  Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
Ø  Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
Ø  Berkesinambungan  
Ø  Terintegrasi
Ø  Dapat digunakan sebagai feed back
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa
Ø  proyek/kegiatan dan laporannya
Ø  PR
Ø  Kuis
Ø  Karya siswa
Ø  Presentasi atau penampilan siswa
Ø  Demonstrasi
Ø  Laporan
Ø  Jurnal
Ø  Hasil tes tulis
Ø  Karya tulis
Dari uraian diatas, adapun yang ingin penulis tanyakan yaitu :
1.      Bagaimanakah penerapan dari Pemodelan (Modeling) di kelas ? berikan contohnya !
2.      Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas ?

16 komentar:

  1. Menyikapi no 1.?
    Penerapan Modeling memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan keterampilan spesifik yang dipelajari di kelas untuk demonstrasi, sehingga peserta didik dapat menjadi student center bagi siswa yang lain.

    BalasHapus
  2. Terimakasih ulasannya saudari yeni.. Saya tertarik untuk saling berdiskusi mengenai pertanyaan terakhir apakah kita beberapa model dapat dipadukan dalam PBM. Saya pernah belajar mengenai model pembelajaran ipa terpadu yg dimana kita menggabungkan pelajaran kimia fisika dan biologi dalam tahap pembelajaran. Lalu saya pernah mencari contoh rpp mengenai model2 tersebut. Minsalnya saya menggunakan model webbed atau jaring laba2, lalu saat saya search rpp nya,ternyata d dalam rpp menggunakan model cooperatif. Jd menurut saya bs saja kita menggunakan penggabungan model pembelajaran selama kita dapat menerapkannya dengan profesional dan hasilnya bagus.. Terimakasib

    BalasHapus
  3. beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas, kita dapat menggunakan model terpadu Immersed yang menitik beratkan pada minat siswa, kemudian bisa digabungkan dengan Project Learning dan yang lain akan membuat siswa lebih mengerti pembelajaran sesuai pola fikir siswa.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum, menurut pendapat saya Model pembelajaran dapat dipadukan dengan metode ceramah dan metode diskusi

    BalasHapus
  5. Menanggapi pertanyaan ke dua Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas? sebenarnya model pembelajaran dalam proses pembelajaran cuma satu, tapi bisa dipadukan dengan pendekatan. contoh: inquiry berbasis scientific, atau inquiry berorientasi pada kurikulum 2013

    BalasHapus
  6. Assalamualaikum wr wb
    saya akan menanggapi pertanyaan no 2 Menurut saya dalam suatu proses KBM lazimnya menggunakan satu jenis model pembelajaran, tetapi dalam suatu KBM boleh menggabungkan beberapa pendekatan,tekhnik,metode dan strategi pembelajaran.

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum wr.wb
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 2..
    Kalau menurut saya juga bisa..saya sependapat dengan apa yg ditanggapi oleh saudari ranti.pada saat pembelajaran ipa terpadu itu ada perpaduan model yg digunakan. Jika kita mampu menjalankan nya dan pembelajaran juga efektif tidak ada masalah.
    Terima kasih

    BalasHapus
  8. Artikel yang menarik.
    Saya akan menanggapi pertanyaan sdri.Yeni yaitu "Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas ?"
    Menurut saya,dalam suatu pembelajaran hanya bisa menggunakan 1 model pembelajaran saja,misalnya dalam 1 RPP hanya menggunakan model problem based learning, tetapi kita bisa memakai beberapa metode,strategi,pendekatan pembelajaran didalam model tsb.
    Seperti yg teman-teman sebelumnya komentari bahwa bisa menggabungkan salah satu model Fogarty dengan Model pembelajaran lainnya.sepengetahuan saya,model Fogarty hanya digunakan untuk mengintegrasi kurikulum.

    Mohon dibenarkan jika pemahaman saya ada yg keliru.
    Terima kasih

    BalasHapus
  9. Assalamualaikum..
    Menurut Istarani (2011:2013), menyatakan bahwa ”Langkah-langkah model pembelajaran modelling adalah sebagai berikut:
    1) menjelaskan materi yang diajarkan kepada siswa,
    2) mempraktikkan atau mendemonstrasikan materi ajar di depan kelas,
    3) setelah pelajaran satu topik tertentu, lalu carilah topik-topik yang menuntut siswa untuk mencoba dan mempraktikkan langsung yang baru diterangkan,
    4) bagilah kelompok siswa ke dalam beberapa kelompok kecil sesuai jumlah mereka, kelompok ini yang akan mendemonstrasikan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan skenario yang dibuat,
    5) berikan kepada siswa waktu 10-15 menit untuk menciptakan skenario kerja,
    6) berilah waktu 5-7 menit bagi siswa untuk berlatih,
    7) secara bergiliran tiap kelompok diminta mendemonstrasikan hasil kerja masing-masing, setelah selesai berilah kesempatan kepada kelompok yang lain untuk memberikan masukan pada setiap demonstrasi yang dilakukan,
    8) guru memberikan penjelasan secukupnya untuk mengklarifikasi,
    9) pengambilan keputusan.

    BalasHapus
  10. assalamualaikum wr.wb
    baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2, apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat belajar dan mengajar dikelas ?
    menurut saya tidak bisa karena perlu kita ketahui bahwa model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
    trimakasih
    wassalamualaikum wr.wb

    BalasHapus
  11. menurut pendapat saya model pembelajaran bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas tergantung situasi dan kondisi serta materi yang di pelajarinya.

    BalasHapus
  12. Trimah kasih ulsannya. Menurut saya beberapa model pembeljaran busa d padukan pada saat proses pembelajran yng d sesuaikan dgn materi. Krna jika trlau byak model malah mebuat siswa bingung dan tujuan pembelajra malah tdak trcpai. Sekian..

    BalasHapus
  13. saya akan mencoba menjawab pertanyaan no.2 yaitu Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas ? Menurut saya bisa saja tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Misalkan pada Integrasi kurikulum yang telah kita pelajari sebelum nya terdapat perpaduan model yang digunakan dari sejumlah model pembelajaran yang dikemukakan Fogarty (1991), terdapat beberapa model yang potensial untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA terpadu, yaitu connected, webbed, shared, dan integrated. Empat model tersebut dipilih karena konsep-konsep dalam KD IPA memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga memerlukan model yang sesuai agar memberikan hasil keterpaduan yang optimal.

    BalasHapus
  14. Assalamualaikum
    saya akan menjawab pertanyaan no 2. Menurut saya dalam proses KBM kita hanya bisa menggunakan 1 model pembelajaran. Hal itu dapat kita lihat dalam RPP. Tetapi kita dapat menggunakan beberapa strategi, metode dalam RPP tersebut. Saya setuju dengan pernyataan saudara ega, bahwa Model Fogarty itu hanya dintegrasikan dalam kurikulum. Misalnya untuk mata pelajaran berbeda dengan materi yang saling berkaitan dapat diintegrasikan dengan model Fogarty.

    BalasHapus
  15. Assalamualaikum,
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomr 2.
    Inovasi guru menjadi faktor penting dalam pbm, baik inovatif terhadap menyajikan media pembelajaran, model pembelajaran, dan lain2.
    Kasus menggabungkan model pembelajaran menjadi tuntutan agar tujuan dari pembelajaran tercapai.
    Semisal pada satu model mendapati kendala, guru langaung berinovasi dengan menerapkan model lainnya, dengan tetap menjalankan langkah-langkah midel sebelumnya.

    BalasHapus
  16. Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas ?... saya coba menanggapi, bisa menggunakan beberapa model yang dipadukan, namun bisa juga menerapkan nodel terpatu, seperti yang saya ulas pada blog sya, ada 10 model pembelajaran terpadu dari penulis robin fogarty, dimana kesepuluh model terpadu tersebut bisa kita terapkan dalam pembelajaran di kelas. m

    BalasHapus