Rabu, 31 Januari 2018

MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN KOLABORATIF


PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan dari TK, SD, SMP, SMA dan PT.
Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual
1.      Konstruktivisme
Ø  Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.
Ø  Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
2.      Inquiry
Ø  Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
Ø  Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
3.      Questioning (Bertanya)
Ø  Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
Ø  Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
4.      Learning Community (Masyarakat Belajar)
Ø  Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.
Ø  Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
Ø  Tukar pengalaman.
Ø  Berbagi ide
5.      Modeling (Pemodelan)
Ø  Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar.
Ø  Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
6.      Reflection ( Refleksi)
Ø  Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari.
Ø  Mencatat apa yang telah dipelajari.
Ø  Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7.      Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya)
Ø  Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
Ø  Penilaian produk (kinerja).
Ø  Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Ø  Kerjasama
Ø  Saling menunjang
Ø  Menyenangkan, tidak membosankan
Ø  Belajar dengan bergairah
Ø  Pembelajaran terintegrasi
Ø  Menggunakan berbagai sumber
Ø  Siswa aktif
Ø  Sharing dengan teman
Ø  Siswa kritis guru kreatif
Ø  Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
Ø  Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain
Karakteristik authentic assessment
Ø  Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran ber­langsung
Ø  Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
Ø  Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan meng­ingat fakta
Ø  Berkesinambungan
Ø  Terintegrasi
Ø  Dapat digunakan sebagai feed back

Kelebihan dari model pembelajaran kontekstual
1.      Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga siswa terlibat aktif dalam PBM.
2.      Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
3.      Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
4.      Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
5.      Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
6.      Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
7.      Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.
Kelemahan model pembelajaran kontekstual 
1.      Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa, padahal dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama.
2.      Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
3.      Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.
4.      Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
5.      Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
6.      Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lisan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
7.      Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
8.      Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Pembelajaran kolaboratif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Metode kolaboratif dalam pembelajaran lebih menekankan pada pembangunan makna oleh siswa dari proses sosial yang bertumpu pada konteks belajar. Metode kolaboratif ini lebih jauh dan mendalam dibandingkan hanya sekadar kooperatif. Dasar dari metode kolaboratif adalah teori interaksional yang memandang belajar sebagai suatu proses membangun makna melalui interaksi sosial.

Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu:
1.      Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata
2.      Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.

Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesaikan secara bersama tanpa membedakan percakapan belajar siswa.
Tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
1.      Memaksimalkan proses kerja sama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
2.      Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerja sama.
3.      Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
4.      Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
5.      Mengembangkan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.
6.      Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
7.      Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
8.      Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
9.      Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
Macam-Macam Pembelajaran Kolaboratif
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu :
1.      Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2.      Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3.      Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4.      Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5.      Jigsaw Procedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6.      Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7.      Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8.      Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9.      Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10.  Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan Team Accelerated Instruction. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis, dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
Langkah-langkah pembelajaran kolaboratif :
1.      Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2.      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3.      Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4.      Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5.      Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6.      Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7.      Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8.      Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Kelebihan Pembelajaran Kolaboratif
1.      Siswa belajar bermusyawarah
2.      Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
3.      Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
4.      Dapat memupuk rasa kerja sama
5.      Adanya persaingan yang sehat
Kekurangan Pembelajaran Kolaboratif
1.      Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
2.      Membutuhkan waktu cukup banyak.
3.      Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
4.      Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai