Model-Model
Pembelajaran Khas Sains
Penerapan
pembelajaran IPA yang dilakukan oleh setiap pendidik memilki karakter yang
berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh isi materi dan kemampuan pendidik itu
sendiri. Kreatifitas seorang guru akan sangat diperlukan khususnya pembelajaran
IPA, karena dalam pembelajaran IPA tidaklah cukup dengan menggunakan model dan
metode yang biasa diterapkan dalam pembelajaran yang lainnya. Hal ini harus
diakui secara seksama karena materi IPA memerlukan suatu aktifitas yang langsung
dan benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
IPA
dalam pembelajarannya memilki ciri yang berbeda dengan membelajarkan materi
yang lain kepada siswa, salah satu ciri yang menonjol adalah adanya proses
pembelajaran yang berproses dengan menggunakan observasi, percobaan, dan
pemecahan masalah. Memang ciri ini dimiliki oleh materi pelajaran yang lain,
akan tetapi prosedur dalam pengalikasiaanya memliki persamaan dengan metode
yang dilakukan oleh para ahli, dan para penemu-penemu sebelumnya.
Adapun ciri-ciri
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL adalah sebagai berikut :
1. Kerja
sama
2. Saling
menunjang
3. Menyenangkan
4. Belajar
dengan bergairah
5. Pembelajaran
terintegrasi
6. Menggunakan
berbagai sumber belajar
7. Siswa
aktif Shering dengan teman
8. Siswa
kritis guru kreatif
9. Dinding
kelas penuh dengan karya siswa
Adapun
model-model pembelajaran IPA adalah salah satunya terdapat pada pendekatan CTL
(contextual teaching and learning).
Adapun
penerapan pendekatan CTL di dalam kelas secara umum adalah sebagai berikut :
1.
Konstruktivisme
(constructivism)
Kontruktivisme
merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya
sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar
mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya,
yang dilandasi oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya.
Landasan
berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang
lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis, `strategi
memperoleh' lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan
mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi proses
tersebut dengan:
1) Menjadikan
pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
2) Memberi
kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
3) Menyadarkan
siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar
2.
Menemukan
(Inquiry)
Menemukan
merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karena pengetahuan
dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan
(inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation),
bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data
gathering), penyimpulan (conclusion).
Siklus inkuiri
Ø Observasi
(Observation)
Ø Bertanya
(Questioning)
Ø Mengajukan
dugaan (Hiphotesis)
Ø Pengumpulan
data (Data gathering)
Ø Penyimpulan
(Conclussion)
Langkah-langkah kegiatan menemukan
(inkuiri)
1) Merumuskah
masalah (dalam matapelajaran apapun)
Ø Bagaimanakah
silsilah raja-raja Majapahit? (sejarah)
Ø Bagaimanakah
cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar di tepi pantai Kendari? (bahasa
Indonesia)?
Ø Ada
berapa jenis tumbuhan menurut bentuk bijinya? (biologi)
Ø Kota
mana saja yang termasuk kota besar di Indonesia? (geografi)
2) Mengamati
atau melakukan observasi
Ø Membaca
buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung.
Ø Mengamati
clan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati
3) Menganalisis
dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, clan karya
lainnya
Ø Siswa
membuat peta kota-kota besar sendiri
Ø Siswa
membuat paragraf deskripsi sendiri.
Ø Siswa
membuat bagan silsilah raja-raja Majapahit sendiri
Ø Siswa
membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri.
Ø Siswa
membuat essai atau usulan kepada Pemerintah tentang berbagai masalah di
daerahnya sendiri. Dst.
4) Mengkomunikasikan
atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang
lain
Ø Karya
siswa disampaikan teman sekelas atau kepada orang banyak untuk mendapatkan
masukan
Ø Bertanya
jawab dengan teman
Ø Memunculkan
ide-ide baru
Ø Melakukan
refleksi
Ø Menempelkan
gambar, karya tulis, peta, dan sejenisnya di dinding kelas, dinding sekolah,
majalah dinding, majalah sekolah, dsb.
3.
Bertanya
(Questioning)
Pengetahuan
yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan
strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna
untuk :
1) Menggali
informasi
2) Menggali
pemahaman siswa
3) Membangkitkan
respon kepada siswa
4) Mengetahui
sejauh mana keingintahuan siswa
5) Mengetahui
hal-hal yang sudah diketahui siswa
6) Memfokuskan
perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru
7) Membangkitkan
lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan
siswa
4.
Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Konsep
masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil
kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman,
antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi
apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam
komunikasi pembelajaran saling belajar.
Metode
pembelajaran dengan teknik "learning community" ini sangat membantu
proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam :
Ø Pembentukan
kelompok kecil
Ø Pembentukan
kelompok besar
Ø Mendatangkan
`ahli' ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi,
polisi, tukang kayu, dsb)
Ø Bekerja
dengan kelas sederajat
Ø Bekerja
kelompok dengan kelas di atasnya
Ø Bekerja
dengan masyarakat
5.
Pemodelan
(Modeling)
Pemodelan
pada dasarnya membahas apa akan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru
menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar
siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya
model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa dan juga mendatangkan dari
luar.
6.
Refleksi
(Reflection)
Refleksi
merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari atau
berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya
dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi
yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
Realisasinya berupa :
Ø Pernyataan
langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu
Ø Catatan
atau jurnal di buku siswa
Ø Kesan
dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
Ø Diskusi
Ø Hasil
karya.
Pembelajaran
yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu
mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya
sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Kemajuan belajar
dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya
salah satunya. Itulah hakekat penilaian yang sebenarnya.
7.
Penilaian
yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Penialaian
adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai
perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran
perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa
siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada
penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan
terhadap proses maupun hasil
Karakteristik authentic assessment:
Ø Dilaksanakan
selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
Ø Bisa
digunakan untuk formatif maupun sumatif
Ø Yang
diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
Ø Berkesinambungan
Ø Terintegrasi
Ø Dapat
digunakan sebagai feed back
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai
dasar menilai prestasi siswa
Ø proyek/kegiatan
dan laporannya
Ø PR
Ø Kuis
Ø Karya
siswa
Ø Presentasi
atau penampilan siswa
Ø Demonstrasi
Ø Laporan
Ø Jurnal
Ø Hasil
tes tulis
Ø Karya
tulis
Dari uraian
diatas, adapun yang ingin penulis tanyakan yaitu :
1. Bagaimanakah
penerapan dari Pemodelan (Modeling) di kelas ? berikan contohnya !
2. Apakah
beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas ?
Menyikapi no 1.?
BalasHapusPenerapan Modeling memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan keterampilan spesifik yang dipelajari di kelas untuk demonstrasi, sehingga peserta didik dapat menjadi student center bagi siswa yang lain.
Terimakasih ulasannya saudari yeni.. Saya tertarik untuk saling berdiskusi mengenai pertanyaan terakhir apakah kita beberapa model dapat dipadukan dalam PBM. Saya pernah belajar mengenai model pembelajaran ipa terpadu yg dimana kita menggabungkan pelajaran kimia fisika dan biologi dalam tahap pembelajaran. Lalu saya pernah mencari contoh rpp mengenai model2 tersebut. Minsalnya saya menggunakan model webbed atau jaring laba2, lalu saat saya search rpp nya,ternyata d dalam rpp menggunakan model cooperatif. Jd menurut saya bs saja kita menggunakan penggabungan model pembelajaran selama kita dapat menerapkannya dengan profesional dan hasilnya bagus.. Terimakasib
BalasHapusbeberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas, kita dapat menggunakan model terpadu Immersed yang menitik beratkan pada minat siswa, kemudian bisa digabungkan dengan Project Learning dan yang lain akan membuat siswa lebih mengerti pembelajaran sesuai pola fikir siswa.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Assalamualaikum, menurut pendapat saya Model pembelajaran dapat dipadukan dengan metode ceramah dan metode diskusi
BalasHapusMenanggapi pertanyaan ke dua Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas? sebenarnya model pembelajaran dalam proses pembelajaran cuma satu, tapi bisa dipadukan dengan pendekatan. contoh: inquiry berbasis scientific, atau inquiry berorientasi pada kurikulum 2013
BalasHapusAssalamualaikum wr wb
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan no 2 Menurut saya dalam suatu proses KBM lazimnya menggunakan satu jenis model pembelajaran, tetapi dalam suatu KBM boleh menggabungkan beberapa pendekatan,tekhnik,metode dan strategi pembelajaran.
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan no 2..
Kalau menurut saya juga bisa..saya sependapat dengan apa yg ditanggapi oleh saudari ranti.pada saat pembelajaran ipa terpadu itu ada perpaduan model yg digunakan. Jika kita mampu menjalankan nya dan pembelajaran juga efektif tidak ada masalah.
Terima kasih
Artikel yang menarik.
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan sdri.Yeni yaitu "Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas ?"
Menurut saya,dalam suatu pembelajaran hanya bisa menggunakan 1 model pembelajaran saja,misalnya dalam 1 RPP hanya menggunakan model problem based learning, tetapi kita bisa memakai beberapa metode,strategi,pendekatan pembelajaran didalam model tsb.
Seperti yg teman-teman sebelumnya komentari bahwa bisa menggabungkan salah satu model Fogarty dengan Model pembelajaran lainnya.sepengetahuan saya,model Fogarty hanya digunakan untuk mengintegrasi kurikulum.
Mohon dibenarkan jika pemahaman saya ada yg keliru.
Terima kasih
Assalamualaikum..
BalasHapusMenurut Istarani (2011:2013), menyatakan bahwa ”Langkah-langkah model pembelajaran modelling adalah sebagai berikut:
1) menjelaskan materi yang diajarkan kepada siswa,
2) mempraktikkan atau mendemonstrasikan materi ajar di depan kelas,
3) setelah pelajaran satu topik tertentu, lalu carilah topik-topik yang menuntut siswa untuk mencoba dan mempraktikkan langsung yang baru diterangkan,
4) bagilah kelompok siswa ke dalam beberapa kelompok kecil sesuai jumlah mereka, kelompok ini yang akan mendemonstrasikan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan skenario yang dibuat,
5) berikan kepada siswa waktu 10-15 menit untuk menciptakan skenario kerja,
6) berilah waktu 5-7 menit bagi siswa untuk berlatih,
7) secara bergiliran tiap kelompok diminta mendemonstrasikan hasil kerja masing-masing, setelah selesai berilah kesempatan kepada kelompok yang lain untuk memberikan masukan pada setiap demonstrasi yang dilakukan,
8) guru memberikan penjelasan secukupnya untuk mengklarifikasi,
9) pengambilan keputusan.
assalamualaikum wr.wb
BalasHapusbaiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2, apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat belajar dan mengajar dikelas ?
menurut saya tidak bisa karena perlu kita ketahui bahwa model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
trimakasih
wassalamualaikum wr.wb
menurut pendapat saya model pembelajaran bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas tergantung situasi dan kondisi serta materi yang di pelajarinya.
BalasHapusTrimah kasih ulsannya. Menurut saya beberapa model pembeljaran busa d padukan pada saat proses pembelajran yng d sesuaikan dgn materi. Krna jika trlau byak model malah mebuat siswa bingung dan tujuan pembelajra malah tdak trcpai. Sekian..
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan no.2 yaitu Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas ? Menurut saya bisa saja tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Misalkan pada Integrasi kurikulum yang telah kita pelajari sebelum nya terdapat perpaduan model yang digunakan dari sejumlah model pembelajaran yang dikemukakan Fogarty (1991), terdapat beberapa model yang potensial untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA terpadu, yaitu connected, webbed, shared, dan integrated. Empat model tersebut dipilih karena konsep-konsep dalam KD IPA memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga memerlukan model yang sesuai agar memberikan hasil keterpaduan yang optimal.
BalasHapusAssalamualaikum
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan no 2. Menurut saya dalam proses KBM kita hanya bisa menggunakan 1 model pembelajaran. Hal itu dapat kita lihat dalam RPP. Tetapi kita dapat menggunakan beberapa strategi, metode dalam RPP tersebut. Saya setuju dengan pernyataan saudara ega, bahwa Model Fogarty itu hanya dintegrasikan dalam kurikulum. Misalnya untuk mata pelajaran berbeda dengan materi yang saling berkaitan dapat diintegrasikan dengan model Fogarty.
Assalamualaikum,
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomr 2.
Inovasi guru menjadi faktor penting dalam pbm, baik inovatif terhadap menyajikan media pembelajaran, model pembelajaran, dan lain2.
Kasus menggabungkan model pembelajaran menjadi tuntutan agar tujuan dari pembelajaran tercapai.
Semisal pada satu model mendapati kendala, guru langaung berinovasi dengan menerapkan model lainnya, dengan tetap menjalankan langkah-langkah midel sebelumnya.
Apakah beberapa model bisa dipadukan pada saat proses belajar mengajar di kelas ?... saya coba menanggapi, bisa menggunakan beberapa model yang dipadukan, namun bisa juga menerapkan nodel terpatu, seperti yang saya ulas pada blog sya, ada 10 model pembelajaran terpadu dari penulis robin fogarty, dimana kesepuluh model terpadu tersebut bisa kita terapkan dalam pembelajaran di kelas. m
BalasHapus